
BERANDANUSANTARA.CO.ID, TARAKAN – Penyakit kusta atau lepra masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan edukasi berkelanjutan, terutama karena kuatnya stigma negatif yang melekat padanya. Kepala Puskesmas Sebengkok, dr. Putri Dian Vitasari, M.M., menjelaskan bahwa meskipun wilayah Tarakan sudah berstatus eliminasi atau bukan lagi daerah endemis kusta, pihaknya tetap gencar melakukan pengawasan dan deteksi dini guna mencegah penularan senyap di tengah masyarakat.
Menurut dr. Putri, tantangan terberat dalam memberantas penyakit infeksi bakteri pada saraf ini justru datang dari faktor sosial. Tidak sedikit pasien terduga kusta yang merasa sangat malu dan melakukan penolakan terhadap diagnosis awal dari fasilitas kesehatan.
“Jadi kadang-kadang pasien-pasien yang sebenarnya terdiagnosis kusta, itu dia malu, dia nggak mau berobat ataupun misalnya dia diperiksa di sini kemudian kita bilang kemungkinan itu kusta, dia denial gitu. Jadi dia tidak mau mengikuti pengobatan atau dia mencari opsi lain,” ungkap dr. Putri saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (07/09/26),
Merespons kendala sosial tersebut, Puskesmas Sebengkok mengambil langkah “jemput bola” melalui kegiatan pencarian kasus secara aktif atau active case finding. Proses skrining ini dilakukan secara komprehensif, mulai dari pemeriksaan kesehatan anak usia sekolah, layanan di posyandu, hingga survei cepat di tingkat kelurahan.
“Jadi biasanya kami ikut ke sekolah-sekolah pada saat cek kesehatan gratis, kita akan skrining anak-anak itu ada tidak bercak putih yang mati rasa. Nah kalau kusta itu kan bercak putih yang mati rasa ya, yang nggak terasa gitu. Beda dengan panu, kalau panu kan dia terasa gatal,” jelasnya.
Terkait penularan, dr. Putri meluruskan bahwa bakteri kusta tidak mudah menular seketika seperti batuk pilek, melainkan membutuhkan kontak erat dalam jangka waktu lama—yakni lebih dari 1 hingga 2 tahun—dan sangat bergantung pada daya tahan tubuh penderita. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak perlu takut untuk memeriksakan diri, terlebih karena biaya pengobatan kusta sepenuhnya ditanggung negara.
“Itu gratis ter-cover dengan BPJS. Kalaupun pasiennya tidak punya BPJS kita masukkan di program. Jadi memang ini salah satu pengobatan program pemerintah yang kami pun di-supply obatnya dari pusat. Jadi itu gratis semua, tidak ada yang harus dibayar,” pungkasnya. (adv/hi)
