Takut Lapor Guru BK? Korban Bullying Bisa Adukan ke P2TP2A, Gratis Pendampingan Psikolog

BERANDANUSANTARA.CO.ID, TARAKAN – Siswa yang menjadi korban perundungan atau bullying kini tidak perlu bingung mencari tempat perlindungan. Apabila merasa takut atau tidak nyaman untuk melapor kepada pihak sekolah maupun guru Bimbingan Konseling (BK), korban memiliki alternatif pelaporan independen yang terjamin keamanannya.

Kepala Bidang Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Tarakan, dr. Jumiati memaparkan bahwa korban atau saksi mata bullying dapat memanfaatkan layanan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) atau Sedungan. Layanan ini dirancang khusus untuk memberikan ruang aman bagi anak-anak maupun orang tua dalam mengadukan kasus kekerasan fisik, verbal, hingga cyberbullying.

Pihak P2TP2A menyediakan akses pengaduan yang fleksibel dan mudah dijangkau. “Kalau misal ada anak tidak berani melapor, padahal dia jadi korban buli atau melihat temannya jadi korban buli, mereka bisa menempuh beberapa cara. Yang pertama mereka bisa WA ke kami, ada nomor Sedungan di 085346210026, atau mereka bisa datang langsung ke sini kalau mereka tidak berani lapor ke gurunya,” ujar dr. Jumiati saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (08/09/26).

Setiap laporan yang masuk akan langsung ditindaklanjuti dengan proses asesmen menyeluruh untuk mengetahui kondisi psikologis korban. “Nanti kami tentu akan melakukan asesmen, apakah ini butuh dirujuk ke psikologi. Kalau memang kami anggap itu butuh rujukan ke psikologi, maka kami akan lakukan rujukan,” terangnya.

Bagi korban yang mengalami trauma atau gangguan mental akibat perundungan, pemulihan melalui tenaga profesional menjadi prioritas utama. dr. Jumiati juga menekankan bahwa masyarakat tidak perlu memikirkan biaya penanganan, karena seluruh proses rujukan dan pendampingan psikolog tersebut ditanggung penuh oleh pemerintah. “Dan jangan khawatir, ini gratis,” tegasnya. Melalui akses layanan ini, diharapkan tidak ada lagi anak korban bullying yang menderita dalam diam.( adv/ hi)