
BERANDANUSANTARA.CO.ID, TARAKAN – Pemerintah Kota Tarakan melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan terus berupaya menekan praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar. Sebagai solusi konkret untuk meringankan beban biaya operasional petani, pemerintah kini memberikan intervensi langsung berupa bantuan alat pertanian hingga program pendampingan komprehensif.
Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan Usaha dan PPHP, Hj. Siti Nurdiyanah, SP, M.P., menjelaskan bahwa salah satu kendala utama petani dalam membuka lahan adalah tingginya biaya pembersihan. Untuk meringankan beban tersebut, pemerintah memberikan bantuan berupa mesin potong kepada para petani. Alat ini diharapkan mempermudah penebangan dan pembersihan lahan tanpa harus menggunakan api.
Selain bantuan alat, pemerintah saat ini juga sedang mengembangkan program cetak sawah baru yang difokuskan pada lahan-lahan yang belum terbuka. Program ini dirancang untuk mendampingi petani secara penuh dari awal hingga akhir.
“Melalui program cetak sawah ini, pemerintah memfasilitasi keseluruhan proses pertanian. Mulai dari pengolahan lahan, proses pembibitan, penanaman, hingga nanti sampai pada masa panen,” jelas Hj. Siti Nurdiyanah saat ditemui di Gedung Gadis, Kamis (25/09/2026).
Lebih lanjut, ia memberikan edukasi kepada petani mengenai konsep pertanian minim limbah (zero waste). Petani diimbau dengan tegas untuk tidak membakar lahan karena sisa penebangan kayu dari proses pembukaan lahan sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali secara maksimal.
Hj. Siti Nurdiyanah mencontohkan bahwa ranting atau sisa penebangan tersebut tidak perlu dimusnahkan dengan api. Kayu sisa tersebut bisa digunakan sebagai ajir (tiang penyangga) yang sangat dibutuhkan untuk tanaman merambat seperti kacang panjang, tomat, dan timun.
“Bahkan, sisa-sisa kayu tebangan yang ukurannya memadai serta sisa pembersihan lainnya dapat dimanfaatkan petani untuk membangun pondok tempat istirahat di area kebun,” tambahnya.
Langkah strategis ini diharapkan menjadi solusi ganda bagi masyarakat. Di satu sisi, biaya operasional dan pembukaan lahan petani menjadi jauh lebih ringan berkat fasilitas pemerintah, dan di sisi lain, kelestarian lingkungan di Tarakan tetap terjaga dari ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). (Hi/adv)
