Ubah Paradigma Bertani: Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Tarakan Gencarkan Edukasi “Face-to-Face” Cegah Bakar Lahan

BERANDANUSANTARA.CO.ID, TARAKAN – Musim kemarau yang tengah melanda Kota Tarakan berdampak ganda pada sektor pertanian lokal. Selain menyebabkan kekeringan yang mengganggu jadwal tanam, kondisi cuaca panas ini juga diwarnai dengan masih ditemukannya praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar oleh oknum petani.

Kepala Bidang Penyuluhan, Pelayanan Usaha dan PPHP Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tarakan, Hj. Siti Nurdiyanah, SP, MP, menjelaskan bahwa kemarau panjang ini sangat memengaruhi produktivitas petani di lapangan. Hal tersebut diungkapkannya saat ditemui di Gedung Gadis, Kamis (10/09/26).

“Banyak petani, terutama untuk tanaman padi, yang seharusnya dijadwalkan penanaman pada bulan Agustus kemarin terpaksa tertunda. Menunggu kondisi sudah mulai hujan baru ditanami kembali,” ujarnya menceritakan kondisi usai melakukan kunjungan lapangan ke kelompok tani binaan.

Terkait dengan masih adanya lahan pertanian yang sengaja dibakar, Hj. Siti Nurdiyanah menegaskan bahwa instansinya mengambil langkah taktis dengan turun langsung menemui para petani. Alih-alih menggelar kegiatan sosialisasi massal secara formal yang mengumpulkan banyak orang, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian saat ini lebih mengandalkan pendekatan tatap muka dari pintu ke pintu.

“Kalau untuk sosialisasi masalah pembukaan lahan dengan membakar, kami tidak ada kegiatan khusus (massal). Cuma secara face-to-face, kunjungan ke lapangan setiap hari, itu tetap kami memberikan imbauan ke kelompok tani untuk jangan membuka lahan dengan membakar karena dampaknya merusak lingkungan,” jelas Hj. Siti Nurdiyanah.

Langkah penyuluhan ini dipilih karena akar masalahnya bukan sekadar keterbatasan alat, melainkan pola pikir tradisional yang sudah mengakar. Banyak petani masih beranggapan bahwa abu sisa pembakaran lahan adalah pupuk alami yang paling ampuh.

Hj. Siti Nurdiyanah menyadari bahwa sekadar melarang tidak akan membawa perubahan. Terlebih, pendekatan kepada petani membutuhkan strategi khusus, mengingat mayoritas dari mereka lebih terbiasa menyerap informasi melalui bukti praktik di lapangan dan pengalaman turun-temurun dibandingkan sekadar penyampaian teori.

“Pendekatan ke petani kita tidak bisa langsung merubah mindset. Dia harus melakukan dulu, tindakan dengan ada hasil. Jadi kita harus memberikan pemahaman dan memberikan bukti nyata bahwa tidak semuanya yang tradisional itu baik,” tegasnya.

Melalui dialog harian yang intensif ini, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Tarakan berharap dapat perlahan-lahan mengubah kebiasaan para petani lokal dan membuktikan bahwa metode pertanian modern tanpa bakar bisa memberikan hasil yang maksimal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. (Adv/hi)