Kementan Dorong Kelompok Tani Mandiri dan Melek Digital, Kurangi Ketergantungan Bantuan

BERANDANUSANTARA.CO.ID, TARAKAN – Pelatihan dan sosialisasi yang diberikan kepada kelompok tani difokuskan untuk menciptakan kemandirian dan menjaga kekompakan antar anggota. Hari Suyanto, S.P., M.P., selaku Koordinator Penyuluh Pertanian Kementerian Pertanian Kota Tarakan, menekankan bahwa kedisiplinan administrasi dan kebersamaan kelompok adalah fondasi utama menuju kemandirian.

“Harapan ke depan, kelompok-kelompok yang sudah kami beri sosialisasi bisa lebih mengarah ke kemandirian, terus menjaga kekompakan dan kebersamaan. Administrasi kelompoknya juga bisa dilaksanakan, karena tanpa ada kekompakan, kelompok otomatis akan kurang disiplin,” ujar Hari Suyanto saat ditemui di ruang pertemuan Kelompok Tani Tunas Mekar, Jumat (11/09/2026).

Ia juga menambahkan bahwa kemandirian kelompok menjadi target krusial agar petani bisa berdiri di atas kaki sendiri. “Menuju ke kemandirian itu salah satunya biar tidak ketergantungan dengan bantuan dari pemerintah,” tegasnya.

Saat ini, tingkat kemandirian kelompok tani masih bervariasi. Berdasarkan pengamatan di lapangan, Hari menyebutkan bahwa kurang lebih 20 persen kelompok tani telah berstatus mandiri, dengan beberapa di antaranya berhasil naik jenjang ke tingkat lanjut maupun madya. Untuk kelompok yang masih berada di tahap pemula, pendampingan terus diintensifkan.

Selain kemandirian, transformasi digital juga menjadi indikator penting dalam pengembangan kelompok tani. Tercatat sekitar 65 persen kelompok tani telah mengadopsi sistem digitalisasi. Penerapan teknologi ini membawa perubahan signifikan, mulai dari pemasaran e-commerce, pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah seperti sambal botol, hingga pelaporan administrasi ke kementerian yang kini memanfaatkan sistem tautan (link) digital.

Meski tren adopsi teknologi menunjukkan angka yang positif, keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) masih menjadi kendala utama di lapangan. Faktor usia mayoritas anggota kelompok tani yang tergolong lanjut membuat proses adaptasi Teknologi Informasi (IT) berjalan cukup lambat.

“Kalau kendala pasti ada. Salah satunya anggota yang, mohon maaf, umurnya sudah lanjut, pasti SDM-nya terkait IT masih banyak kekurangan. Saya sendiri saja untuk IT masih merasa banyak kekurangan,” ungkap Hari.

Meski demikian, Kementerian Pertanian akan terus melakukan bimbingan secara bertahap agar seluruh petani binaan dapat perlahan beradaptasi dan terintegrasi penuh dengan ekosistem pertanian digital. (hi/adv)