Dari Mimbar ke Lahan Pintar: Pendeta di Tarakan Sukses Terapkan Pertanian Modern Berbasis IoT

BERANDANUSANTARA.CO.ID, TARAKAN – Stigma bahwa profesi petani identik dengan pekerjaan fisik dan melelahkan secara nyata dipatahkan oleh Lukas (40), seorang pendeta di Kota Tarakan. Tidak hanya aktif melayani umat, sejak tahun 2007 ia juga konsisten terjun menggarap lahan pertanian.

“Walaupun profesi saya seorang tokoh agama, seorang pendeta. Tapi bertani itu tidak hilang dalam diri saya. Saya tetap mencintai dan menekuninya,” ungkap Lukas.

Berawal dari mengelola lahan terbuka (outdoor) yang kini telah mencapai luasan dua hektar, Lukas rutin memproduksi komoditas utama berupa cabai, diselingi timun dan kacang. Lompatan teknologi dalam usahanya bermula pada tahun 2025 melalui program pembinaan dari Bank Indonesia (BI).

“Ini dari Bank Indonesia yang memfasilitasi dan membuatkan greenhouse ukuran dengan 10 x 12. Mereka melihat kami bisa bermitra dengan mereka dan akhirnya menjadi binaannya sehingga mereka bisa membantu membuat seperti ini,” jelasnya.

Inovasi di dalam greenhouse bernilai hampir Rp200 juta tersebut mengubah total cara kerja konvensional. “Karena sistem irigasinya memanfaatkan teknologi jadi sangat efektif dan efisien,” kata Lukas.

Lahan tanam dilengkapi sistem cerdas yang terhubung ke aplikasi Habibi Garden. “Dia bisa mendeteksi pH tanahnya, jadi saat buka aplikasi kita langsung mengetahui kurang atau berlebihan pupuknya dan pupuk apa yang kurang N, P, atau K aplikasi langsung memberikan informasi,” tambahnya.

Dari luasan percontohan tersebut, 320 pohon cabai yang ditanam mampu menghasilkan 6 hingga 10 kilogram dalam satu kali siklus panen. Hasil panen ini diserap oleh pengepul dengan harga Rp55.000 – Rp60.000 per kilogram, serta dijual eceran di kisaran Rp70.000 per kilogram. Estimasi pendapatan bisa mencapai Rp2 jutaan per bulan dengan biaya operasional yang sangat efisien, yakni hanya sekitar Rp300.000 untuk pupuk dan beban listrik untuk pompa air.

Meski sistem greenhouse mampu menekan risiko cuaca, Lukas menyoroti tantangan berat yang masih menghantui sektor pertanian lahan terbuka. “Tantangan yang paling berat itu seperti sekarang ini cuaca, kemarau,” tuturnya.

Kondisi ini bahkan sempat menyebabkan kegagalan panen cabai puluhan kilogram. Ia berharap pemerintah daerah dapat segera memberikan solusi irigasi.

“Pemerintah agar bisa memberikan sebuah bantuan khususnya alat mesin pompa dan selang ke petani, supaya pertanian ini bisa berkelanjutan disaat musim kemarau,” harap Lukas.

Selain berfokus pada produktivitas, lahan milik Lukas kini juga beralih fungsi menjadi sarana edukasi untuk menarik minat generasi muda. “Memang di era sekarang saya lihat orang-orang muda memang tidak tertarik dengan bertani. Karena mungkin mereka melihat kerjanya agak keras dan sedikit kotor,” ungkapnya.

Melalui percontohan pertanian modern ini, Lukas ingin membuktikan bahwa bertani kini jauh lebih bersih dan terukur. “Anak muda akan melihat proses bertani yang lebih modern dan akhirnya melahirkan petani-petani muda dari generasi Gen Z,” pungkasnya.