Jelang JOTA-JOTI 2026, Orlok Tarakan Siap Edukasi 133 Pelajar dan Pramuka Kenali Teknologi Radio di SMAN 1

BERANDANUSANTARA.CO.ID, TARAKAN – Menyambut gelaran tahunan kepanduan internasional Jamboree On The Air – Jamboree On The Internet (JOTA-JOTI), Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal (Orlok) Kota Tarakan tengah mematangkan berbagai persiapan. Kegiatan edukatif ini diagendakan berlangsung selama tiga hari, mulai 16 hingga 18 Oktober 2026, dengan mengambil lokasi di SMA Negeri 1 Tarakan.

Ketua Orlok Kota Tarakan, Morhan ( YG7UNW ), menyampaikan bahwa JOTA-JOTI tahun ini dirancang secara khusus untuk menjadi wadah edukasi teknologi komunikasi bagi generasi muda. Kegiatan ini menargetkan partisipasi sebanyak 133 pelajar dari berbagai sekolah se-Kota Tarakan beserta para anggota Pramuka.

“Fokus utama kita pada JOTA-JOTI kali ini adalah literasi dan edukasi komunikasi radio. Kami ingin mengenalkan secara langsung kepada adik-adik Pramuka dan para pelajar mengenai perangkat-perangkat radio amatir, mulai dari gelombang VHF (Very High Frequency), UHF (Ultra High Frequency), hingga HF (High Frequency),” ungkap Morhan ( YG7UNW ), Sabtu ( 03/10/2026).

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penguasaan perangkat keras saja tidak cukup. Oleh karena itu, para peserta juga akan dibekali materi mengenai tata cara berkomunikasi atau operating procedure yang benar dan beretika di udara.

Selama kegiatan di SMAN 1 Tarakan nanti, para peserta akan didampingi langsung oleh anggota Orlok Tarakan untuk melakukan praktik memancar dan berkomunikasi dengan anggota Pramuka lain, baik di tingkat nasional maupun internasional. Mereka akan diajarkan standar operasional komunikasi, penggunaan sandi atau kode amatir radio (seperti Phonetic Alphabet dan Q-Code), serta etika merespons panggilan.

Pemilihan SMAN 1 Tarakan dinilai strategis untuk mendirikan stasiun radio sementara (stasiun penyerta) dan mengakomodasi seluruh rangkaian acara, baik sesi teori maupun praktik on-air.

Melalui persiapan yang matang ini, Orlok Kota Tarakan berharap 133 peserta yang ditargetkan tidak hanya sekadar ikut serta, tetapi betul-betul mendapatkan keterampilan baru yang aplikatif. Pengetahuan komunikasi radio ini diharapkan dapat memperluas wawasan teknologi peserta dan menjadi bekal keahlian yang sangat berguna, terutama saat menghadapi situasi darurat atau bencana alam di masa depan.

(Ry)