
BERANDANUSANTARA.CO.ID – Presiden Prabowo menargetkan penyaluran dana sebesar Rp 400 triliun untuk petani, nelayan, dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Langkah ini disambut positif oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang berkomitmen untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di kalangan kelompok sasaran tersebut.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, yang akrab disapa Kiki, menegaskan bahwa peningkatan literasi dan inklusi keuangan merupakan salah satu dari sepuluh program prioritas OJK. Program ini dirancang untuk menjangkau berbagai segmen masyarakat, termasuk petani, nelayan, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), ibu rumah tangga, pelajar, penyandang disabilitas, serta masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan termiskin (3T).
“OJK memiliki 10 program prioritas, termasuk untuk petani, nelayan, UMKM, ibu rumah tangga, kemudian pelajar, disabilitas, daerah 3T, dan sebagainya. Jadi, tentu ini terus kita tingkatkan,” ujar Kiki dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) 2026 di JIEXPO Kemayoran, Kamis (22/10).
Data yang dipaparkan OJK menunjukkan bahwa literasi keuangan masyarakat Indonesia telah mencapai angka 69 persen, sementara inklusi keuangannya mencapai 93 persen. Meskipun angka inklusi terbilang tinggi, Kiki menyoroti adanya kesenjangan pemahaman. Banyak masyarakat yang sudah menggunakan produk keuangan, namun belum sepenuhnya memahami cara kerja dan manfaatnya.
“Jadi, banyak orang yang menggunakan produk keuangan tapi belum paham,” jelasnya.
Lebih lanjut, Kiki memaparkan bahwa masih terdapat perbedaan signifikan dalam tingkat literasi dan penggunaan produk keuangan di antara kelompok masyarakat tertentu. Ia memberikan contoh sektor yang memiliki tingkat literasi keuangan sebesar 43 persen, namun tingkat penggunaan produk keuangannya baru mencapai 13 persen. Situasi ini menyoroti pentingnya edukasi yang lebih intensif dan akses keuangan yang lebih mudah dijangkau.
Oleh karena itu, OJK akan terus menggalakkan edukasi dan mempermudah akses keuangan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang menjadi fokus utama dalam program prioritas ini.
Target Rp 400 triliun yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto diharapkan dapat menjangkau sekitar 28 juta keluarga atau lebih dari 100 juta jiwa, dengan asumsi rata-rata empat anggota keluarga di setiap rumah tangga.
“Saya ingin menyalurkan Rp 400 triliun kepada para petani, nelayan, dan mereka-mereka yang berada di pedesaan dan di daerah-daerah terpencil dan daerah-daerah yang tertinggal, juga di daerah-daerah perkotaan yang berpenghasilan rendah,” ungkap Presiden Prabowo saat memberikan sambutan pada acara yang sama.
Presiden Prabowo optimis bahwa kemampuan pemerintah dalam menyalurkan dana tersebut dapat terus ditingkatkan. Hal ini sangat bergantung pada optimalisasi pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang melimpah.
“Itu kemampuan kita sekarang. Tetapi kalau kita bisa mengamankan sumber-sumber alam kita yang sangat luar biasa, berarti kemampuan kita akan lebih,” tegasnya.
- OJK menempatkan peningkatan literasi dan inklusi keuangan sebagai salah satu dari 10 program prioritasnya.
- Program prioritas OJK mencakup petani, nelayan, UMKM, ibu rumah tangga, pelajar, disabilitas, dan masyarakat di daerah 3T.
- Tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69%, sedangkan inklusi keuangan 93%.
- Ada kesenjangan pemahaman, di mana banyak masyarakat menggunakan produk keuangan tanpa memahaminya secara mendalam.
- Dana Rp 400 triliun diharapkan menjangkau lebih dari 100 juta jiwa atau sekitar 28 juta keluarga.
Program pemberdayaan ekonomi ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan para penerima manfaat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan. Dengan akses keuangan yang lebih baik dan pemahaman yang mendalam tentang produk keuangan, petani dan nelayan dapat mengembangkan usaha mereka, meningkatkan produktivitas, dan pada akhirnya berkontribusi lebih besar pada ketahanan pangan nasional.
Selain itu, fokus pada UMKM juga menjadi krusial. Sektor ini merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia dan penyedia lapangan kerja terbesar. Dengan dukungan finansial dan edukasi yang tepat, UMKM diharapkan dapat tumbuh, berinovasi, dan bersaing di pasar yang lebih luas, baik domestik maupun internasional.
Penyaluran dana sebesar Rp 400 triliun ini bukanlah sekadar transfer uang, melainkan sebuah investasi strategis dalam sumber daya manusia dan potensi ekonomi kerakyatan. Pemerintah menyadari bahwa pengelolaan sumber daya alam yang optimal akan menjadi kunci untuk mewujudkan potensi pendanaan yang lebih besar lagi. Keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan seperti OJK, serta partisipasi aktif dari masyarakat penerima manfaat.
Pentingnya peningkatan literasi dan inklusi keuangan menjadi semakin relevan di tengah upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam konteks yang lebih luas, strategi ini sejalan dengan upaya global untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan, pangan bergizi, pekerjaan layak, dan pertumbuhan ekonomi. Dengan memberdayakan sektor-sektor yang secara tradisional memiliki akses terbatas terhadap layanan keuangan, pemerintah menunjukkan komitmennya untuk memastikan bahwa pembangunan ekonomi dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Plus
- Peningkatan kesejahteraan petani, nelayan, dan masyarakat berpenghasilan rendah.
- Potensi pertumbuhan ekonomi sektor riil, terutama pertanian, perikanan, dan UMKM.
- Meningkatkan daya saing UMKM melalui akses permodalan dan literasi keuangan.
Minus
- Risiko penyaluran dana yang tidak tepat sasaran jika pengawasan lemah.
- Tantangan dalam memastikan pemahaman dan pemanfaatan dana secara optimal oleh penerima.
- Ketergantungan pada optimalisasi pengelolaan sumber daya alam untuk keberlanjutan program.

Presiden Prabowo menekankan bahwa penyaluran dana ini harus disertai dengan program pendampingan yang memadai. Hal ini penting untuk memastikan bahwa dana tersebut benar-benar digunakan untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat. Pendampingan ini bisa mencakup pelatihan teknis, bantuan pemasaran, serta advokasi dalam menghadapi tantangan bisnis.
OJK, melalui berbagai program edukasi dan sosialisasi, akan memainkan peran kunci dalam membekali petani, nelayan, dan pelaku UMKM dengan pengetahuan yang mereka butuhkan. Mulai dari cara mengelola arus kas, memahami produk investasi sederhana, hingga pentingnya asuransi untuk melindungi usaha dari risiko yang tidak terduga.
- Edukasi dan sosialisasi intensif mengenai produk dan layanan keuangan.
- Pendampingan dalam penyusunan rencana bisnis dan pengelolaan keuangan.
- Memfasilitasi akses ke berbagai produk keuangan yang sesuai dengan kebutuhan.
Kolaborasi antara pemerintah, OJK, dan sektor swasta akan menjadi kunci keberhasilan implementasi program ambisius ini. Dengan fondasi literasi dan inklusi keuangan yang kuat, penyaluran dana Rp 400 triliun ini dapat menjadi katalisator perubahan positif yang signifikan bagi jutaan keluarga di seluruh Indonesia.
Presiden Prabowo Subianto menargetkan penyaluran dana hingga Rp 400 triliun untuk petani, nelayan, dan masyarakat berpenghasilan rendah, sementara OJK berkomitmen meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.
Sumber: Kumparan
