HomeNusantaraBabi Hutan Terobos Masjid di Blora Berakhir Ditembak dan Jadi Santapan Warga

Babi Hutan Terobos Masjid di Blora Berakhir Ditembak dan Jadi Santapan Warga

BERANDANUSANTARA.CO.ID, BLORA — Seekor babi hutan berukuran besar dengan bobot sekitar 90 kilogram mendadak menerobos masuk ke area Masjid Agung An Nur di Dukuh Selogender, Desa Gempol, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, pada Rabu (21/10/2026) siang, yang langsung memicu kepanikan warga sekitar dan jemaah masjid akibat perilaku agresif hewan liar tersebut di fasilitas publik.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 14.00 WIB itu bermula ketika satwa liar yang diduga keluar dari kawasan hutan sekitar mendadak nyelonong masuk ke lingkungan masjid. Kehadiran hewan tersebut tidak hanya membuat warga gempar, tetapi juga merusak sejumlah fasilitas setelah babi hutan itu mengamuk di dalam bangunan tempat ibadah.

Menyadari potensi bahaya yang mengancam keselamatan umum, warga setempat segera melaporkan kejadian darurat tersebut kepada aparat keamanan. Kepolisian sektor setempat bersama warga bergerak cepat menuju lokasi untuk mengamankan situasi dan melumpuhkan babi hutan yang terus bergerak agresif di area masjid.

Aparat kepolisian bersama warga terpaksa melumpuhkan babi hutan tersebut dengan tembakan terukur demi mencegah jatuhnya korban jiwa di tengah permukiman.

Setelah melalui pertimbangan situasi darurat dan kondisi di lapangan, petugas akhirnya memutuskan untuk mengambil tindakan tegas dengan menembak mati hewan tersebut. Langkah ini dinilai sebagai satu-satunya cara paling aman mengingat tenaga celeng yang cukup kuat dan risiko serangan terhadap warga yang berkerumun.

“Celeng diberoncah, dipotong-potong, terus ada yang dimasak. Intine dibuat pesta.”

— Warga Setempat

Bangkai babi hutan yang sudah dilumpuhkan kemudian dievakuasi dari dalam area masjid agar tempat ibadah tersebut dapat segera dibersihkan dan digunakan kembali. Warga dan perangkat desa berembuk untuk mengolah bangkai hewan tersebut agar tidak terbuang sia-sia di lingkungan pemukiman.

Daging celeng seberat 90 kilogram itu kemudian dipotong-potong di tempat terpisah dan dibagikan dalam kondisi mentah kepada warga yang mengonsumsinya. Sebagian warga bahkan langsung mengolah daging tersebut untuk dimasak bersama-sama sebagai bentuk pemanfaatan hasil penanganan konflik satwa liar di desa mereka.

“Hewan liar itu bikin panik warga. Suasana langsung berubah jadi tegang. Warga setempat langsung bergerak cepat.”

— Perangkat Desa

Pemerintah daerah dan pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kemunculan satwa liar dari kawasan hutan sekitar. Warga diminta untuk tidak bertindak sendiri apabila menghadapi situasi serupa dan segera berkoordinasi dengan aparat berwenang demi keselamatan bersama.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments

error: Content is protected !!