BERANDANUSANTARA.CO.ID, TANJUNG SELOR — Direktorat Samapta Kepolisian Daerah Kalimantan Utara menggencarkan upaya pencegahan dini penyalahgunaan narkotika bagi kalangan remaja di kawasan publik dan lingkungan pendidikan secara humanis dan dialogis, Rabu (21/10/2026).
Kepolisian Daerah Kalimantan Utara mengambil langkah preemtif yang terukur dalam menekan laju peredaran gelap narkotika di wilayah perbatasan. Melalui Direktorat Pembinaan Masyarakat, aparat kepolisian mengedepankan pendekatan yang humanis dan edukatif langsung kepada masyarakat akar rumput, sebuah strategi yang dirancang untuk membangun kesadaran kolektif tanpa menimbulkan gesekan sosial.
Direktur Binmas Polda Kaltara, Kombes Pol Eri Dwi Haryanto, memimpin langsung agenda sosialisasi yang menyasar berbagai elemen warga, mulai dari pemuda, tokoh masyarakat, hingga kelompok rentan yang dinilai berisiko tinggi terpapar barang haram tersebut. Menurutnya, pencegahan dini berbasis komunikasi persuasif jauh lebih efektif dalam jangka panjang ketimbang sekadar penegakan hukum represif yang kerap meninggalkan residu sosial.
“Kegiatan ini kita laksanakan sebagai upaya melindungi generasi muda dari bahaya penyalahgunaan narkoba di wilayah perbatasan,”
— Kombes Pol Eri Dwi Haryanto
Wilayah Kalimantan Utara sendiri dikenal memiliki karakteristik geografis yang sangat menantang. Sebagai daerah perbatasan darat dan laut dengan negara tetangga, wilayah ini kerap menjadi jalur strategis bagi sindikat internasional untuk menyelundupkan narkotika. Kondisi inilah yang mendorong Polda Kaltara untuk memperkuat ketahanan internal masyarakat melalui penyuluhan intensif di kawasan-kawasan rawan.
Dalam setiap sesi penyuluhan, petugas kepolisian tidak hanya memaparkan bahaya medis dari konsumsi narkotika, tetapi juga membongkar modus operandi baru yang kerap digunakan para pengedar untuk menjerat korban baru. Para bandar sering kali memanfaatkan ketidaktahuan warga di daerah terpencil atau menawarkan imbalan finansial instan kepada pemuda setempat untuk dijadikan kurir.
Polda Kaltara mengedepankan pendekatan humanis dan edukatif untuk membangun kesadaran masyarakat di wilayah perbatasan dalam mencegah penyalahgunaan narkotika.
Pendekatan humanis ini diterjemahkan melalui dialog terbuka yang memungkinkan warga menyampaikan keresahan mereka terkait situasi keamanan di lingkungan masing-masing. Polisi bertindak sebagai pendengar sekaligus fasilitator yang membantu masyarakat mengenali potensi ancaman kejahatan sejak dini.
Selain memberikan pemahaman hukum mengenai sanksi pidana berat bagi pelaku penyalahgunaan dan peredaran narkotika, aparat juga menekankan pentingnya peran keluarga. Ketahanan keluarga dinilai sebagai benteng pertahanan pertama yang paling tangguh untuk melindungi anak-anak dan remaja dari pengaruh buruk lingkungan luar.
Program pembinaan ini juga mencakup pelatihan kepemimpinan bagi generasi muda agar mereka memiliki kegiatan positif yang produktif. Dengan mengalihkan energi para pemuda ke dalam bidang olahraga, seni, dan kewirausahaan sosial, ruang gerak sindikat narkotika untuk merekrut anggota baru dapat ditekan secara signifikan.
“Generasi muda merupakan aset penting bagi masa depan bangsa sehingga pencegahan harus melibatkan seluruh elemen,”
— Kombes Pol. Hamid Andri Soemantri
Langkah preventif yang diambil Polda Kaltara ini mendapat apresiasi dari berbagai tokoh adat dan pemuka agama setempat. Mereka menilai kehadiran polisi yang turun langsung ke tengah warga dengan membawa misi edukasi mampu mencairkan ketegangan yang selama ini kerap terjadi antara aparat penegak hukum dan masyarakat sipil.
Meski pendekatan humanis menjadi fokus utama, pihak kepolisian menegaskan bahwa tindakan tegas tanpa kompromi tetap akan diberlakukan kepada para bandar besar dan jaringan sindikat profesional yang mencoba merusak masa depan generasi muda di Bumi Benuanta. Kombinasi antara penindakan hukum yang tegas dan pencegahan humanis diyakini sebagai formula paling ideal untuk membersihkan Kaltara dari ancaman narkoba.
